Orang Tua Penganiaya Guru SMA Diponegoro Kisaran ; "Semua Cina di Kisaran Ini Saya Kenal"

Orang Tua Penganiaya Guru SMA Diponegoro Kisaran ; "Semua Cina di Kisaran Ini Saya Kenal"

Ket Gambar: Saksi Azwar AR yang juga merupakan kepala sekolah SMA Diponegoro Kisaran memasuki ruang sidang sebelum memberikan kesaksian, Senin (9/4/2018). / PR

Kisaran.online | Asahan  : Pengadilan Negeri Kisaran kembali melanjutkan sidang dengan agenda mendengarkan keterangan saksi atas  kasus penganiayaan terhadap Ahmad Zailani, guru agama SMA Diponegoro Kisaran yang dilakukan oleh terdakwa EP salah seorang oknum Polri berpangkat AKP.
 
Jaksa Roi Baringin Tambunan menghadirkan Azwar AR, yang menjabat sebagai kepala sekolah SMA Diponegoro Kisaran. Didepan majelis hakim yang diketuai oleh Ulina Marbun, Azwar menceritakan kesaksian yang dilihat dan didengarnya pada saat kejadian pada hari Jumat, tanggal 21 Juli 2017 lalu sekitar pukul 10:40 WIB.
 
“Saya baru melangkah keluar dari ruangan saya buk hakim, setelah itu saya melihat terdakwa menyeret tangan Ahmad Zailani dengan cara tangan kirinya memegang tengkuk korban dan tangan kanan terdakwa memegang tangan kiri korban. Saya lihat korban dalam ketakutan dan tak berdaya,” kata Azwar mula menceritakan kesaksiaannya.

Melihat kejadian itu,  Azwar bertanya kepada terdakwa apa yang sebenarnya terjadi lalu selanjutnya terdakwa mengatakan kepada Azwar bahwa guru tersebut telah bertindak kurang ajar dan menghukum anaknya karena tidak ikut dalam kegiatan pesantren kilat.

“Ini guru kurang ajar pak, jangan sampai saya yang menghabisinya bisa habis nanti. Kalau saya muda saya lempar dia dari atas ke bawah," kata Azwar menirukan ucapan terdakwa.

Terdakwa meminta agar guru tersebut dikeluarkan dari sekolah saat itu juga, lalu Azwar pun mengajak terdakwa untuk bicara empat mata diruangannya dan menyuruh Ahmad Zailani untuk minta maaf kepada terdakwa namun ditolak.

“Tak perlu kau minta maaf, kau harus keluar dari sekolah ini. Siapa deking kau sudah 32 tahun saya jadi polisi, semua Cina di Kisaran Ini saya kenal ” kata Azwar kembali menirukan ucapan terdakwa saat itu.

Kemudian keesokan harinya, pihak sekolah membuat surat sangsi berupa peringatan pertama dan pnonaktifan sementara kepada Ahmad Zailani sebagai bentuk hukuman yang diberikan sekolah dan diantarkan ke rumah terdakwa yang dititipkan melalui putrinya, namun terdakwa tidak terima dan mengembalikan surat yang diberikan pihak sekolah tersebut dan diantar langsung oleh terdakwa ke rumah kepala sekolah.

Azwar kembali memohon dan meminta maaf kepada terdakwa sambil mengatakan hal itu tidak mungkin dilakukan dan meminta belas kasihan terhadap terdakwa atas guru Ahmad Zailani bagaimana nanti nasib anak istrinya jika ia dikeluarkan dari sekolah.

“Namun terdakwa mengatakan dirinya tidak peduli dan mengatakan dia sudah siapkan dana dan pengacara untuk persoalan tersebut,” kata Azwar lagi menirukan ucapan terdakwa.

Selang beberapa hari kemudian, pihak sekoah mendapatkan kabar melalui sekretaris yayasan bahwa kasus tersebut sudah dilaporkan terdakwa kepada polisi.
 
Olehkarena adanya informasi laporan ke polosi dari terdakwa makanya Azhmad Zailani memutuskan kasus yang dialaminya tersebut juga dilaporkan ke Polres Asahan pada hari Rabu, 26 Juli 2017 sekitar pukul 13:00 WIB hingga perkara itu berakhir di meja hijau. (Kis-02).

    Berita Terkait

    Form Komentar



    Masukan 6 kode diatas :

    huruf tidak ke baca? klik disini refresh


    Komentar Via Facebook