Lantai Tidak dicor, Drainase Proyek DD Dikeluhkan Warga Desa Sidomulyo

Lantai Tidak dicor, Drainase Proyek DD Dikeluhkan Warga Desa Sidomulyo

Ket Gambar: Salah seorang warga Desa Sidomulyo menunjukkan lantai drainase yang tidak dicor./Paimin.

 
 
Kisaran.online | Asahan - Proyek pembangunan saluran air drainase di Dusun V dan VII Desa Sidomulyo, Kecamatan Tinggi Raja, Kabupaten Asahan dikeluhkan warga. 
 
Pasalnya saluran air atau drainase yang dibangun dengan Dana Desa (DD) Tahun 2019, dikerjakan oleh pemerintah setempat asal siap dan tidak sesuai dengan harapan.
Sejumlah warga setempat menilai dranase yang dibangun dengan dana sebesar Rp 139.575.000 sepanjang 281 meter dan Rp 126.915.000 sepanjang 200 meter di tiga titik  tidak akan bertahan lama, karena dalam pengerjaannya lantai dasar diduga tidak menggunakan pondasi coran melainkan hanya disiram dengan air semen. 
 
Selain itu susunan batu dinding drainase bagian luar tidak dicor, kecuali ditutup dengan tanah. Dikawatirkan air dapat masuk ke rongga tanah yang dapat menggerus dinding drainase dan akibatnya bisa jebol dan roboh.
 
“ Sudah banyak contoh proyek di Desa Sidomulyo yang gagal, seperti drainase yang dibangun di dusun V, VI dan VII sudah banyak yang ambrol dan tertimbun tanah sehingga menjadi mubajir “ ungkap Kardi (50)  yang diamini sejumlah rekannya saat ditemui wartawan di Desa Sidomulyo, Jumat (28/6).
 
Hal senada dikatakan E. Silalahi, ia menambahkan proyek drainase tahun ini diduga ditangani langsung oleh oknum Kades setempat.
 
 Ironisnya pemaritan yang seharusnya dikerjakan secara manualtapi dilakukan menggunakan alat berat beko, sehingga diduga ada penyimpangan penggunaan anggaran dana desa.   
 
“ Kami sangat mengharap Plt, Bupati Asahan bapak Surya datang ke Desa Sidomulyo untuk melakukan croscek proyek fisik yang bersumber dari dana desa agar pembangunan yang dilaksanakan di desa kami tidak lagi mubazir “ tegas Silahi. 
 
Lebih lanjut dikatakan, berdasarkan hasil pengukuran warga drainase yang sedang dibangun dan hampir rampung dikerjakan memiliki ukuran yang berbeda, tinggiannya 48 CM hingga 76 CM.
 
Hal itu diakui salah seorang pekerja bernama Keling (60), saat ditemui wartawan menjelaskan, ukuran tinggi 50 CM, 60 CM dan 80 CM, hal ini disesuaikan dengan keadaan tanah agar air bisa berjalan lancar. 
 
“ Tinggi memang berbeda, susuai dengan draf, mana yang rentah ukurannya lebih dalam, yang tinggi lebih rendah. Mudah-mudahan jika turun hujan pemukiman warga tidak lagi tergenang banjir “ ujar Keling.    
 
Secara terpisah Kades Sidomulyo Nardi saat dikonfirmasi wartawan via hand phone, Minggu (30/6/2019) juga membenarkan tinggi atau kedalaman parit drainase tidak bisa disamakan, agar air mengalir deras.
 
“ Pondasi lantainya memang tidak dicor karena petunjuk juknis (petunjuk tehnis) begitu, tapi kalau dinding drainase tidak dicor, itu ada TPK nya (Tim Pelaksana Kerja) saya tidak tahu “ terang Kades. 
 
Kades Nardi juga tidak membantah kalau pengorekan parit drainase menggunakan alat berat beko, sebab tidak mampu untuk dikerjakan oleh tenaga manusia karena hambatannya pohon-pohon sawit yang besar dan tinggi serta tanah-tanahnya banyak menggunung.
 
“ Dranase yang ambrol kalau tidak salah bangunan tahun 2015, saya belum menjadi kepala desa, tapi kalau drainase yang di Pekan Selasa (dusun VI) memang saya. Ukurannya rata-rata 50 CM, kalau yang perengan dibuat 70 CM air berjalan lancar tidak meluap keluar saat turun hujandan air menggenang di parit. Pengalaman itulah yang menjadi dasar pembuatan dranase tahun ini ukurannya tidak sama, yang perengan dinding drainasenya harus lebih tinggi “ pungkas Nardi. (Kis-04)
 
 

    Berita Terkait

    Form Komentar



    Masukan 6 kode diatas :

    huruf tidak ke baca? klik disini refresh


    Komentar Via Facebook