Cuci Darah Dua Kali Seminggu, Tukang Jamu Bersyukur Terbantu JKN KIS

Cuci Darah Dua Kali Seminggu, Tukang Jamu Bersyukur Terbantu JKN KIS

Ket Gambar: Mistiani, saat menjalani hemodialisa di RS Setio Husodo Kisaran.

 

ASAHAN - Mistiani (50) didiagnosis menderita gagal ginjal stadium tiga pada Maret tahun 2016 lalu. Namun dia tak segera mengikuti saran dokter untuk hemodialisa (cuci darah) dan memilih berobat alternatif.

Seiring berjalannya waktu, kondisi kesehatan wanita yang kesehariannya bekerja sebagai pembuat jamu itu  malah semakin memburuk. Beberapa bulan kemudian penyakit gagal ginjalnya sudah sampai stadium lima.

“Ya memang selama beberapa bulan saya berobat dan diterapi alternatif, namun makin lama saya rasa semakin sakit dan lemas. Setelah diperiksa ke dokter lagi, ternyata penyakit saya sudah stadium lima,” ujarnya saat ditemui di RS Setio Husodo Kisaran, Jumat (19/7).

Bahkan, menurut suami dan anak – anaknya dia bisa lupa nama anggota keluarganya sendiri dan suka mengingau. Jika sudah kumat, Misriani bisa seperti orang gila karena sakitnya sampai ke saraf. Bahkan kata suaminya jika seperti itu maka dia seperti orang gila.

“Saya juga suka mengigau sendiri. Gak terbayang bagaimana waktu itu rasa sakitnya. Yang pertama kali saya pikirkan soal biaya perobatan sebelum masuk di JKN KIS ini,” ujar warga desa Air Genting Kecamatan Air Batu Kabupaten Asahan ini.

Mistiani hanya bisa pasrah. Kini, proses perawatan cuci darahnya rutin dilakukan dua kali dalam satu minggu. Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) Kartu Indonesia Sehat (KIS) dari segmen  Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU) yang membantunya meringankan biaya perobatan.

Di tengah keputusasaan, wanita yang kesehariannya membuat dan menjual jamu ini pun akhirnya kembali memiliki semangat untuk bertahan berkat dukungan keluarga. Ibu tiga anak tersebut sangat bersyukur karena telah terdaftar menjadi peserta JKN-KIS.

Saat ini ia menjalani hemodialisa (cuci darah) hampir satu tahun lamanya dan mengaku selalu mendapat pelayanan terbaik.

“Kalau untuk cuci darah dua kali seminggu dengan uang sendiri, mungkin bisa mencapai sembilan juta per bulan. Sedangkan suami kerja mocok-mocok. Pas-pasan untuk hidup dan sekolah anak. Saya sudah tidak bisa kerja berat lagi. Masak aja pun susah,” kenangnya lagi.

Tak hanya mendapatkan layanan perobatan, Mistiani juga menambahkan pelayanan di rumah sakit yang tergolong bagus sekali. Fasilitas ruangan dan kebersihan, termasuk dokter dan perawatnya sigap.

“Saya semua berobat ini gratis. Alhamdilillah kali semua gratis. Transfusi darah gratis, obat pun semua gratis. Saya selalu ditanya apa kebutuhan saya ketika transfusi darah. Saya merasa dilayani dengan baik sekali. Sudah seperti keluarga semua di sini,” tuturnya dengan senyum. (Kis-01)

    Berita Terkait

    Form Komentar



    Masukan 6 kode diatas :

    huruf tidak ke baca? klik disini refresh


    Komentar Via Facebook