Warung Sate Fitri, Bertahan dimasa Pandemi


kisaran.online l Asahan: Pandemi Covid-19 telah banyak mempengaruhi roda perekonomian di berbagai sektor selama berbulan-bulan. Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) pun tidak lepas dari gerogotan wabah ini. Tak terkecuali Warung Sate Fitri.

Warung yang berada di Aek songsongan ini tetap bertahan. Meskipun pandemi melanda usahanya, ia tak mudah menyerah begitu saja. Tidak satupun karyawannya yang diberhentikan karena keadaan ini walaupun ada pemotongan gaji sebanyak 10%.

Dua bulan pertama sejak wabah virus Corona diumumkan masuk ke Indonesia, pengunjung dan omset Warung Sate Fitri turun drastis. Sebelum pandemi, Warung Sate Fitri dapat menjual hingga 100 porsi perharinya. Pelanggannya pun tidak hanya berasal dari sekitar area warung namun juga dari luar daerah tersebut.

“Alhamdulillah meskipun sedang pandemi, orang akan tetap mencari makanan. Jadi, pelanggan tetap ada meskipun tidak seramai sebelum pandemi. Ya walaupun pelangganku yang jauh-jauh dari Aek Kanopan, Air Batu, dan Aek Loba, jarang makan di sini lagi,” tutur pemilik Warung Sate Fitri ini,” Minggu (31/1/2021)

Kunci mempertahankan bisnis warung sate ini menurut Fitri adalah teliti, tekun, dan sabar dalam mengelola keuangan. Kesungguhan dan kegigihan pun menjadi ujung tombak agar usaha tetap dapat dikelola dengan apik, baik sebelum, saat, ataupun seusai pandemi.

Selain itu, ia pun tetap turun tangan dalam proses mengolah makanan yang dijualnya untuk menjaga cita rasa yang sudah dibangunnya sejak tahun 2015. “Kalau jual makanan itu nggak bisa serta merta menambah porsi yang udah ditetapkan sehari-hari. Hari ini ramai pembeli, lalu besok kita tambah porsinya. Bisa aja jumlah pembeli besok lebih sedikit dari hari ini, dan kita jadi rugi. Menghindari hal itu, ya kita harus sabar, berapa pun keuntungan diterima dengan lapang dada,” ujarnya.

Ada keunikan dari sejarah Warung Sate Fitri ini. Pemiliknya merupakan seorang perempuan yang pernah tinggal di Tangerang selama 14 tahun dan bekerja di salah satu perusahaan kayu di sana. Kemudian ia memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya dan pindah ke Sumatera Utara walaupun sempat ada keraguan terhadap hal ini di dalam dirinya.

“Aku gak pernah mimpi jadi tukang sate. Untuk membuka usaha sate ini pun aku bingung juga waktu itu, apa bisa aku jualan sate sedangkan pekerjaanku sebelumnya di perkayuan,” cerita Fitri sambil mengenang sejarah awal warungnya.

Wanita yang biasa dipanggil dan dikenal dengan nama Fitri ini akhirnya memutuskan menamai warungnya dengan Warung Sate Fitri karena orang-orang yang selalu salah memanggil namanya. Warung ini dimulai dari kecil dengan enam ekor ayam untuk jualan sate selama sehari hingga saat ini dengan puluhan ekor ayam dalam sehari yang bahkan dapat mencapai 50 ekor ayam saat bulan puasa.

Menurutnya, untuk memulai suatu usaha tidak perlu langsung dimulai dengan sesuatu yang besar melainkan dimulai dari langkah kecil terlebih dahulu.“Kalau mau buka usaha mulailah dari yang kecil terlebih dahulu. Setelah niat, langsung aksi dan eksekusi niat tersebut, karena kalau nggak ada aksi ya percuma, nggak maju-maju,” ungkap Fitri untuk orang-orang yang ingin mulai berbisnis.

Selain sate, warung ini juga menyediakan makanan lain seperti ayam bakar, nila bakar, nasi uduk, dan sop kambing. Ke depannya, Fitri berharap usaha satenya akan semakin berkembang dengan adanya penambahan menu di warungnya, sembari berdoa semoga PT Inalum semakin sukses dan kondisi ekonomi semakin membaik. (Kis-001)

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
Comment url