PBL (Problem Based Learning) Sebagai Model Belajar Abad – 21

 

Kisaran.online, Asahan : Perkembangan zaman mengharapkan adanya generasi – generasi baru yang cakap akan pengetahuan, keterampilan dan kepribadian. 

Dalam rangka menghadapi era disrupsi abad 21 dan revolusi industri 4.0, seorang pendidik dituntut untuk mampu beradaptasi menghadapi perubahan dan perkembangan ilmu pengetahuam yang luar biasa sehingga diperlukan pendidik yang mampu bersaing bukan hanya kepandaian tetapi kreativitas dan kecerdasan bertindak. 

Guru yang kompeten adalah guru yang menguasai softskill atau bukan hanya pandai berteori saja, melainkan juga kecakapan hardskill (Isniatun, 2019: 10). 

Adanya keseimbangan kompetensi tersebut menjadikan guru sebagai agen perubahan mampu menyelesaikan masalah pendidikan atau pembelajaran yang dihadapi sebagai dampak kemajuan zaman.

Proses pembelajaran yang hanya mengandalkan buku paket dan guru sebagai satu-satunya sumber utama, menjadi sulit untuk terjadi, karena pembelajaran mutakhir mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan. 

Pemanfaatan big data sebagai sumber belajar menjadi keniscayaan pembelajaran abad 21. Berfokus kepada materi penting, namun fokus kepada pengembangan keterampilan belajar menjadi lebih penting. Peserta didik harus belajar cara melacak, menganalisis, mensintesis, mengubah, mendekontruksi bahkan menciptakan lalu membagikan pengetahuan kepada orang lain (Pujiriyanto, 2019: 8). 

Fokus guru sebenarnya memberikan kesempatan peserta didik.

Untuk menghubungkan materi yang dipelajari dengan dunia nyata, tuntutan zaman membutuhkan bibit – bibit baru yang memiliki kemampuan Abad – 21 yang meliputi kemampuan literasi, kreatif, berpikir kritis, ilmu pengetahuan dan teknologi, kemampuan berkolaborasi, berkomunikasi, serta memiliki karakter yang baik. 

Untuk itu, kegiatan pembelajaran melalui sekolah – sekolah hendaknya memenuhi tuntutan tersebut. Kegiatan pembelajaran yang mampu mencakup tuntutan keterampilan Abad – 21 ini dapat dilaksanakan melalui model pembelajaran PBL (Problem Based Learning).

PBL adalah model pembelajaran yang berbasis masalah, yaitu suatu pembelajaran yang menyuguhkan berbagai situasi bermasalah yang autentik dan bermakna kepada siswa yang berfungsi sebagai landasan bagi investigasi dan penyelidikan siswa (wikipedia.org). Model pembelajaran ini diharapkan dapat meningkatkan keterampilan Abad – 21 peserta didik. Karena pada model pembelajaran ini peserta didik akan melalui beberapa tahapan yang memungkinkan untuk mengembangan potensi kemampuan peserta didik dalam melacak, menganalisis, mensintesis, mengubah, mendekontruksi bahkan menciptakan lalu membagikan pengetahuan atau bahkan produk sebagai hasil eksplorasi kepada orang lain. 

Selain itu, pembelajaran PBL ini akan semakin terasa “bergairah” jika dikaitkan dengan pendekatan TPACK yang meliputi Technology Peadagogic dan Content Knowledge, pembelajaran berbasis teknologi dan berkonten pengetahuan.

Pembelajaran PBL memiliki lima tahapan sintaks, yaitu :

1. Orientasi peserta didik pada masalah

2. Mengorganisasikan peserta didik untuk belajar

3. Membimbing penyelidikan individu maupun kelompok

4. Mengembangkan dan menyajikan hasil karya

5. Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah

Jikadiperhatikan, maka tahapan – tahapan tersebut sangat berpeluang dalam meningkatkan keterampilan abad – 21 peserta didik. 

Tahapan awal merupakan tahapan yang akan membuat ranah berpikir kognitif peserta didik aktif, karena permasalahan yang diangkat adalah autentik dan mampu menarik dan mendayagunakan pemahaman peserta didik tentang materi pelajaran untuk menyelesaikan masalah tersebut. Tahapan kedua akan membangun berfikir kreatif peserta didik dalam menemukan solusi dari suatu permasalahan yang diangkat. Tahapan ketiga, guru akan membimbing penyelidikan, dimana dalam penyelidikan ini akan ada pembiasaan kolaborasi antar teman atau dengan staf ahli atau dengan guru sendiri dalam menemukan solusi dari permasalahan. 

Tahap keempat yaitu mengembangkan dan menyajikan hasil karya akan menuntut peningkatan kreatifitas dan kemampuan berkomunikasi peserta didik dalam menyajikan hasil karya atau temuan atau produk sebagai solusi dari masalah. Tahap terakhir juga akan meningkatkan berpikir kritis dalam menganalisis dan mengevaluasi produk dari pembelajaran yang telah disajikan oleh teman – temannya, guna menemukan kesempurnaan dari produk tersebut.

Pembelajaran PBL bukan pembelajaran yang mudah, perlu banyak waktu dalam proses pembelajarannya. Tidak semua materi belajar dapat menggunakan model pembelajaran ini, untuk itu perlu adanya pembiasaan dan pelatihan bagi guru – guru dalam mempraktikkannya. Sehingga, pelaksaannya menjadi tepat guna.(DIAH PUSPITA SARI, S.Pd)

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
Comment url