Ikan Raja Seharga 1 Juta Hidup di Sungai Asahan

 

Kisaran.online, Asahan : Ikan Jurung atau yang memiliki nama latin Neolissochilus sumatranus (Cyprinidae) merupakan salah satu ikan endemik di Sumatera Utara dengan salah satu habitat di Sungai Asahan.

Ikan jurung mempunyai prospek besar untuk menjadi penopang kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Asahan dan daerah lainnya di Indonesia. 

Ikan yang hidup di sungai dan memiliki harga tinggi tersebut dapat dibudidayakan.

Ikan jurung yang banyak di temukan di Indonesia termasuk di kawasan Sungai Asahan, dimana penyebarannya lebih banyak di temukan di 3 (Tiga) kecamatan yaitu Kecamatan Bandar Pasir Mandoge, Kecamatan Bandar Pulau dan Kecamatan Aek Songsongan. Spesies ikan jurung yang hidup di perairan Sungai Asahan adalah jenis Tor Soro.

Pada tahun 2021, Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Asahan Ir Hazairin, MM ikut serta dalam memfasilitasi CSR PT Inalum ke UPR Mutiara Sungai Asahan berupa pembangunan indoor pemijahan induk ikan jurung sebanyak 30 ekor, perbaikan sarana dan prasaranan kolam serta pelatihan.

Pada tahun ini Dinas Perikanan Kabupaten Asahan juga memberi dukungan berupa bibit ikan jurung dan pakannya sama kelompok yang sama.

"Dengan ukuran yang cukup besar dan rasa yang enak menjadikan ikan jurung memiliki harga yang cukup tinggi dipasaran dengan harga satu kilogram sebesar Rp.1.000.000,- (Satu Juta Rupiah) dalam keadaan hidup dan Rp.350.000,-( Tiga Ratus Lima Puluh Ribu Rupiah) dalam keadaan Mati," ujar Hazairin kepada awak media, Kamis(16/6/2022).

Oleh karena potensi pengembangan yang cukup besar, Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Asahan berharap dukungan dari berbagai pihak dalam pengembangan ikan jurung di Kabupaten Asahan meningkatkan kesejahteraan Masyarakat sesuai visi misi Bupati Asahan Sejahtera yang Religius dan Berkarakter.

Status ikan yang "dihormati seperti Raja" dalam adat Batak, permintaan yang tinggi, rasa yang enak, dan harga yang selangit membuat Sutrisno, warga Kecamatan Aek Songsongan, Kabupaten Asahan membudidayakan ikan jurung di belakang rumahnya yang berada di tepi Sungai Asahan.


Sutrisno membangun sejumlah kolam yang diisi banyak ikan. Termasuk ikan jurung sang primadona. Ia bisa dikata pioner pembudidaya ikan jurung di kampungnya yang sudah ia rintis sejak 5 tahun lalu.

"Dulu saya beli per ekor bibitnya Rp 10.000,-( Sepuluh Ribu Rupiah) sebanyak 200 ekor, Alhamdulillah panen empat tahun. Bagus hasilnya. Sekarang kami cari sendiri. Dulu itu betul-betul kami pelihara secara tradisional. Pakannya pun apa yang mampu kami berikan seperti biji sawit. Sekarang sudah kami coba pakan pelet. Mungkin bisa lebih cepat panen," ujar Sutrisno.

Menurut Sutrisno, ikan jurung yang punya nilai jual maksimal harus memiliki ukuran berat di atas 1 kg. Untuk mencapai ukuran berat 1 kg bukan perkara mudah, karena harus melihat aspek makanan, kolam, dan suhu air.

Bagi para pembudidaya jurung seperti Sutrisno, untuk membuat ikan bisa dijual dengan harga maksimal (ukuran 1 kg), dibutuhkan waktu selama 3 tahun.

Budidaya ikan jurung milik Sutrisno semakin mengepakkan sayap ketika mulai banyak permintaan dari Singapura dan Malaysia.

"Pengusaha dari Singapura, Malaysia sudah mengutus wakilnya ketemu saya minta dipasok jurung. Berapapun mereka siap beli, tapi memang inilah masalahnya. Masa panen lama, infrastruktur kita terbatas. Setiap ada permintaan kita tidak ready karena tak ada ikannya. Untuk pasar lokal saja banyak permintaan, apalagi kalau ada acara adat Batak," papar Sutrisno.

Semangat dan ketekunan Sutrisno dalam melakukan budidaya ikan jurung membuat PT Inalum melakukan berbagai dukungan mendasar untuk memastikan bahwa budidaya ikan bernilai tinggi ini bisa memberikan kesejahteraan dan kebaikan untuk masyarakat. Perusahaan membangun bangunan yang berisi berbagai alat pemijahan di atas lahan milik Sutrisno.

Harapannya, para pekerja dari kelompok usaha Sutrisno bisa lebih mahir dalam memijah ikan jurung dan akan lebih mudah bagi mereka mendapatkan bibit berkualitas.

PT Inalum juga mengirim kelompok usaha Sutrisno selama sepekan untuk melakukan pembelajaran dan training budidaya hingga ke Sidimpuan yang telah lama memiliki budidaya ikan jurung.

"Kami sudah menjalani pendidikan dan sudah diterapkan. Gedung pemijahan yang dibantu Inalum juga sudah kami gunakan. Ke depan kami memang masih butuh bantuan infrastruktur kolam. Karena kolam jurung harus dibuat mirip habitat aslinya," lanjut Sutrisno.

Optimisme tentu saja telah ada di benak mereka para pembudidaya jurung di Kabupaten Asahan. Semangat itulah yang dilihat oleh PT Inalum akan terus mendorong para pelaku budidaya ikan jurung seperti Sutrisno untuk bisa membawa ikan kebanggaan Sumut dan Indonesia untuk terus jaya di pasar internasional.(kis-03)

 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url